Rumah adat Sumatera Barat - Padang

30+ Rumah adat berbagai provinsi di Indonesia (Lebih Lengkap)

RUMAH ADAT DI INDONESIA – Tahukah kamu? Negara kita ini sangat kaya. Berlimpahan. Dan, salah satu kekayaan yang paling menonjol dari Indonesia dibandingkan dengan negara lain adalah kekayaan budayanya.

Terbentang dari Sabang sampai Merauke, terdapat 34 provinsi yang masing-masing memiliki ciri dan budaya yang berbeda satu sama lainnya. Mulai dari makanannya, bahasanya, alat musiknya, hingga rumah adat tradisionalnya.

Daftar rumah adat tradisional Indonesia

Sungguh, leluhur dan nenek moyang kita dahulu itu memiliki selera seni yang tinggi. Hal tersebut terlihat dari banyak peninggalan mereka yang masih tersisa dan bisa kita lihat sekarang, sangat indah dan unik.

Untuk itu, bagi kita yang hidup pada generasi sekarang, sudah seyogyanya kita menjaga dan melestarikan warisan budaya tersebut dengan sebaik-baiknya. Sehingga, anak cucu kita kelak juga bisa melihat betapa kaya dan luar biasanya mahakarya warisan leluhur mereka.

Rumah adat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Rumah adat Nangroe Aceh Darussalam
Sumber Wikipedia

Selain terkenal akan tariannya, Aceh juga memiliki rumah adat yang bernama Rumoh Aceh atau yang dikenal juga dengan sebutan Rumah Krong Bade yang dikenal sebagai ikon Nanggroe Aceh Darussalam. Rumah adat ini memiliki ciri khas, yaitu terdapat tangga depan yang dipergunakan bagi penghuni rumah dan tamu untuk masuk ke dalam rumah.

Sayangnya, Rumah Krong Bade ini sudah hampir punah karena sudah sangat jarang dipakai lagi. Hal itu salah satunya disebabkan karena masyarakat Aceh lebih memilih untuk tinggal di rumah modern. Mengapa demikian?

Ternyata, kalau dihitung, biaya pembangunan rumah modern jauh lebih murah jika dibandingkan dengan Rumah adat Krong Bade yang membutuhkan biaya pembangunan dan perawatan yang lebih tinggi.

Rumah adat provinsi Riau

Rumah adat Riau

Atau yang juga dikenal dengan sebutan Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar. Rumah adat khas Riau ini memiliki ciri berupa kolong yang berada di bawah bangunan. Jadi, rumah adat Riau ini tergolong ke dalam rumah panggung.

Bangunan dari rumah adat ini berbentuk persegi panjang. Untuk fungsinya sendiri, rumah ini bukan untuk tempat tinggal, namun lebih sering digunakan sebagai tempat untuk berkumpul, rapat atau musyawarah secara adat. Selain disebut Selaso Jatuh Kembar, rumah ini juga dikenal sebagai Balai Selaso Jatuh oleh masyarakat Melayu.

Uniknya, rumah ini memiliki banyak nama. Penempatan nama biasanya disesuaikan dengan fungsinya. Seperti:

  • Balai Pengobatan
  • Balairung Sari
  • Balai Kerapatan
  • Dll

Sayangnya, rumah adat ini sekarang sudah jarang digunakan lagi. Karena sekarang, masyarakat desa jika hendak melakukan musyawarah biasanya dilaksanakan di rumah Penghulu, sedangkan hal yang berhubungan dengan keagamaan biasanya dilakukan di masjid.

Rumah adat Belah Bubung Kepulauan Riau

rumah adat kepulauan Riau

Rumah adat ini dikenal dengan nama lain seperti Rumah Bubung Melayu atau Rumah Rabung. Konon katanya, rumah adat ini merupakan pemberian dari orang-orang asing yang datang ke Indonesia, seperti orang Belanda dan orang Tiongkok.

Rumah adat ini juga berbentuk rumah panggung. Memiliki tinggi 2 meter yang ditopang oleh beberapa tiang penyangga. Atapnya memiliki bentuk seperti pelana kuda. Sedangkan bagian dalamnya, rumah ini terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu ruang induk, selasar, ruang penghubung dapur dan dapur.

Bahan utama dalam pembangunan rumah adat ini adalah kayu. Walaupun begitu, dalam proses pembangunannya tidak boleh sembarangan karena harus melewati beberapa serangkaian tahapan (adat), yang dipercaya oleh masyarakat di sana agar pemilik rumah terhindar dari hal yang tidak diinginkan.

Rumah adat Bangka Belitung

Rumah adat Bangka Belitung

Rumah adat Bangka Belitung tentu tidak terlepas dari nuansa Melayu. Rumah adatnya dikenal dengan nama Rumah Panggung atau Rumah Panggong. Bahan yang digunakan dalam pembangunan rumah ini terbuat dari bahan alam.

Atapnya terbuat dari daun rumbia dan ijuk, dinding terbuat dari kulit kayu atau bambu, sedangkan lantainya terbuat dari bahan kayu.

Tegak dan kokohnya rumah ini ditopang oleh 1 tiang utama yang berukuran besar berada di tengah dan 8 tiang pendukung disekelilingnya. Tiang utama ini berfungsi untuk menopang balok-balok kayu yang melintang, tempat diletakkannya papan kayu sebagai lantai.

Dahulu, selain digunakan untuk hunian masyarakat Bangka Belitung secara umum, rumah adat ini juga digunakan sebagai simbol budaya serta kemajuan peradaban. Karenanya, rumah ini terdiri dari beberapa bagian, diantaranya duang depan (difungsikan sebagai ruang utama), loss serta ruang dapur.

Rumah adat Sumatera Utara

Rumah adat Sumatera Utara Rumah Bolon

Dikenal dengan sebutan Rumah Bolon, rumah adat ini berasal dari suku Batak. Rumah ini sangat khas. Karenanya, rumah ini menjadi simbol dari identitas suku Batak yang tinggal di Sumatera Utara. Sejak dulu, rumah adat Bolon ini sudah menjadi tempat tinggal bagi 13 raja yang tinggal di sana.

13 raja tersebut adalah:

  1. Raja Mogam
  2. Raja Bonabatu
  3. Raja Batiran
  4. Raja Rahalim
  5. Raja Raondop
  6. Raja Baringin
  7. Raja Nagaraja
  8. Raja Karel Tanjung
  9. Raja Atian
  10. Raja Bakkaraja
  11. Raja Rajaulan
  12. Raja Ranjinman
  13. Raja Hormabulan

Dalam masyarakat Batak, terdapat beberapa jenis Rumah Bolon, diantaranya: rumah Bolon Toba, rumah Bolon Angkola, rumah Bolon Karo, rumah Bolon Simalungun, rumah Bolon Pakpak, dan rumah Bolon Mandailing. Dari beberapa jenis tersebut, masing-masing memiliki ciri khasnya tersendiri.

Rumah adat ini berbentuk panggung dan persegi empat. Tinggi rumah ini sekitar 1,75 meter. Maka dari itu, penghuni rumah dan tamu yang hendak memasuki rumah ini harus melewati tangga yang berada di tengah-tengah bangunan rumah sambil menunduk.

Sayangnya, rumah adat ini sudah jarang digunakan. Karena sudah langka, maka rumah adat ini hanya akan ditemukan di beberapa objek wisata di Sumatera Utara saja. Maka dari itu, sudah selayaknya kita melestarikan budaya ini agar dapat terus bertahan hingga anak cucu kita nanti.

Rumah adat Sumatera Barat

Rumah adat Sumatera Barat - Padang

Rumah Gadang atau Rumah Godang, merupakan nama rumah adat Minangkabau yang banyak ditemukan di Provinsi Sumatera Barat. Masyarakat lokal juga menyebut rumah ini sebagai Rumah Bagonjong atau Baanjuang.

Rumah Gadang memiliki fungsi sebagai tempat tinggal. Namun, terdapat beberapa ketentuan. Misalnya, jumlah kamar itu bergantung dari berapa banyak perempuan yang tinggal di dalamnya. Setiap perempuan yang sudah menikah, maka berhak mendapatkan kamar tersendiri.

Sedangkan anak-anak dan perempuan yang berusia lanjut biasanya berada di kamar yang dekat dapur. Dan gadis remaja biasanya ditempatkan di sebuah kamar bersama di ujung lain.

Hal yang paling terlihat dari rumah adat ini adalah keunikan arsitekturnya, karena bentuk puncak atapnya mirip seperti tanduk kerbau. Dahulunya, dibuat dari bahan ijuk dan dapat bertahan hingga puluhan tahun. Namun, sekarang atapnya lebih sering menggunakan bahan seng.

Rumah adat Sumatera Selatan

Rumah Limas

Sumatera Selatan memiliki rumah adat yang bernama Rumah Limas. Nama tersebut diambil karena bentuk atap rumahnya memang berbentuk limas. Rumah ada biasanya memiliki lantai yang bertingkat-tingkat. Setiap tingkatnya memiliki filosofi tersendiri.

Rumah Limas biasanya tidak digunakan untuk rumah tinggal, akan tetapi hanya digunakan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat untuk acara-acara penting saja, seperti acara hajatan atau acara adat. Rumah Limas biasanya memiliki luas antara 400 hingga 1000 meter persegi.

Pintu, dinding dan lantai Rumah Limas terbuat dari bahan kayu tembesu. Sedangkan untuk tiangnya terbuat dari kayu unglen yang memiliki keistimewaan yaitu tahan air. Nilai-nilai budaya Palembang sangat kental terdapat pada ukiran pintu dan dindingnya.

Rumah adat Bengkulu

Rumah adat Bubungan Lima
Sumber: Wacana.co

Bengkulu memiliki rumah adat yang bernama Rumah Bubungan Lima. Rumah adat ini juga bentuknya panggung yang ditopang oleh beberapa tiang. Rumah ini biasanya dipakai untuk acara adat masyarakat setempat.

Rumah ini terdiri dari 3 bagian. Pertama bagian atas, bagian tengah dan bagian bawah. Rumah ini berbahan dasar kayu. Namun, kayu yang digunakan bukan kayu sembarangan, melainkan kayu yang tahan lama dan kuat.

Kayu yang biasa digunakan adalah kayu Medang Kemuning. Dalam pembangunannya, rumah adat ini biasanya dibuat tinggi. Hal tersebut bertujuan agar si pemilik rumah sebisa mungkin dapat terhindar dari banjir dan juga serangan binatang buas.

Maka dari itu, orang-orang yang hendak masuk ke rumah adat ini harus melewati tangga terlebih dahulu. Biasanya, jumlah tangganya ganjil. Hal ini didasari dari adat dan kepercayaan masyarakat setempat saja. Rumah Bubungan Lima sudah sering dijadikan sebagai objek wisata di Bengkulu.

Rumah adat Jambi

Rumah adat Jambi

Jambi memiliki rumah adat yang bernama Rumah Panggung. Nama lain dari rumah ini adalah Rumah Kajang Leko. Biasanya, rumah ini terbagi menjadi 8 ruangan yang masing-masin ruangan memiliki fungsi yang berbeda.

  • Ruangan pertama (Jogan) memiliki fungsi sebagai tempat untuk istirahat bagi anggota keluarga. Ruangan ini juga berfungsi untuk menyimpan air.
  • Ruangan kedua (Serambi) yang berada di depan berfungsi sebagai tempat menerima tamu khusus laki-laki.
  • Ruangan ketiga (Serambi) yang berada di dalam berfungsi sebagai tempat tidur anak laki-laki.
  • Ruangan keempat (Amben Melintang) berfungsi sebagai kamar pengantin.
  • Ruangan kelima (Serambi) yang berada di belakang, berfungsi sebagai tempat tidur anak perempuan yang belum menikah.
  • Ruangan keenam digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu khusus perempuan.
  • Ruangan ketujuh (Garang) yang berfungsi untuk tempat menyimpan air.
  • Ruangan kedelapan adalah dapur.

Namun sayangnya, rumah adat Jambi sudah jarang ditemukan. Karena rata-rata, masyarakat Jambi pada umumnya lebih memilih untuk membangun rumah dengan gaya bangunan yang modern dibandingkan dengan rumah tradisional.

Rumah adat Lampung

Rumah ada Nuwo Sesat
Sumber Wacana.co

Lampung memiliki rumah adat yang bernama Nuwo Sesat. Nama tersebut berasal dari dua kata. Nuwo yang artinya rumah dan Sesat yang artinya adat. Rumah adat ini biasanya digunakan sebagai pertemuan para tokoh masyarakat untuk musyawarah (Pepung Adat). Maka, rumah adat ini juga disebut sebagai Balai Agung.

Sedangkan bagian-bagian dari rumah adat ini antara lain:

  • Anjungan, adalah serambi yang biasa dipakai untuk pertemuan kecil.
  • Pusiban, adalah ruang dalam yang biasa dipakai untuk tempat musyawarah resmi.
  • Ruang Tetabuhan, adalah ruangan yang berfungsi untuk menyimpan alat musik tradisional.
  • Ruang Gajah Merem, adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat istirahat untuk para tokoh masyarakat.
  • Ijan Geladak, adalah tangga masuk yang dilengkapi dengan atap.

Bagian depan rumah adat ini, hal yang paling menonjol adalah adanya ukiran ornamen yang bermotifkan perahu. Hal tersebut menjadi ciri khas. Adapun hal lain seperti adanya hiasan payung-payung besar yang berwarna putih, kuning dan merah pada bagian atapnya.

Secara fisik, rumah adat ini masih tergolong rumah panggung yang bertiang. Sebagian besar, bahan baku pembuatan rumah ini adalah papan kayu. Awalnya, Rumah Nuwo Sesat atapnya terbuat dari anyaman ilalang, namun sekarang sudah beralih diganti menggunakan genting.

Rumah adat Banten

Rumah adat Sulah Nyanda Banten

Banten memiliki rumah adat yang bernama Sulah Nyanda. Dari bahan baku pembuatannya, rumah ada ini terbuat dari material yang sederhana, yaitu bambu sebagai bahan utamanya. Sedangkan kayu, ijuk dan batu sebagai pelengkap.

Uniknya, hingga sekarang rumah adat ini masih digunakan sebagai hunian utama bagi masyarakat suku Baduy. Adapun ruangan dari rumah adat ini biasanya dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya:

  • Sosoro (bagian depan), merupakan bagian “teras” dari rumah adat ini. Biasanya dipakai untuk tempat bersantai, menerima tamu atau aktivitas lain seperti menenun.
  • Tepas (bagian tengah), biasanya dipakai sebagai ruang keluarga dan ruang istirahat.
  • Ipah (bagian belakang), biasa digunakan berfungsi sebagai dapur atau tempat menyimpan makanan karena letaknya berada di belakang.

Rumah adat DKI Jakarta

Rumah Kebaya Betawi
Wikipedia

Suku Betawi yang berada di Jakarta memiliki rumah adat bernama Rumah Kebaya. Nama tersebut disematkan pada rumah adat ini karena bentuk atapnya mirip pelana yang dilipat dan jika dilihat dari arah samping, lipatan-lipatan tersebut akan terlihat seperti lipatan kebaya.

Selain Rumah Kebaya, Suku Betawi juga memiliki beberapa rumah adat lainnya, yaitu Rumah Joglo dan Rumah Gudang. Walaupun Betawi memiliki 3 rumah adat, tapi yang dianggap rumah adat suku Betawi resmi adalah Rumah Kebaya.

Rumah Kebaya memiliki ciri khas yaitu teras yang luas, hal tersebut berguna untuk tempat bersantai keluarga dan juga menjamu tamu. Berdasarkan sifatnya, Rumah Kebaya ini dibedakan menjadi 2, yaitu bagian depan yang bersifat sedikit publik dan bagian belakang yang bersifat pribadi.

Rumah adat Jawa Tengah

Rumah Joglo Jawa Tengah

Jawa Tengah memiliki rumah adat yang bernama Rumah Joglo. Atap yang menjulang tinggi menjadikan Rumah Joglo ini terlihat unik. Masyarakat Jawa Tengah juga sering menyebutnya dengan Bubungan (atap tinggi).

Untuk bagian depan, rumah Joglo ini memiliki 4 tiang penyangga yang terbuat dari kayu. Sama halnya juga dengan ruangan bagian tengah, terdapat 4 tiang penyangga, hanya saja ukurannya lebih panjang dari jika dibandingkan dengan tiang bagian depan.

Tiang penyangga dalam rumah Joglo ini dikenal dengan nama Soko Guru yakni tiang yang menopang bubungan agar lebih tinggi dari tiang lain. Hal ini juga dijadikan sebagai simbol atau filosofi bahwa pemilik rumah harus bisa menjadi guru bagi anggota keluarga yang ada di rumah tersebut.

Bukan hanya untuk nilai estetika semata saja, namun bagian atap sengaja dibuat tinggi agar panas dari sinar matahari tidak langsung ‘jatuh’ ke dalam rumah, sehingga suhu udara di dalam rumah tidak terlalu panas ketika siang hari sedang terik.

Rumah adat Daerah Istimewa Yogyakarta

Bangsal Kencono Yogyakarta
Sumber: Radio Suara Wajar 96.8 FM

DIY memiliki rumah adat yang bernama Rumah Bangsal Kencono. Selain difungsikan sebagai tempat tinggal raja, rumah ini sekilas terlihat mirip seperti rumah Joglo namun dengan versi ukuran yang lebih besar, lebar dan luas.

Walaupun arsitektur Jawa yang dominan (terlihat dari ukiran yang berada di tiang, dinding serta atap), namun ternyata rumah adat ini juga ada campuran arsitektur lain seperti arsitektur Portugis, Belanda dan Tiongkok.

Rumah adat ini memiliki ukuran yang cukup luas, karena fungsi utamanya adalah untuk digunakan oleh anggota keluarga kerajaan. Selain itu, rumah adat ini juga kerap kali dipakai untuk upacara adat dan ritual tertentu.

Rumah adat Jawa Timur

Rumah Joglo Jawa Timur

Jawa Timur memiliki rumah adat yang bernama Rumah Adat Joglo. Rumah adat ini sedikit mirip dengan rumah Joglo yang ada di Jawa Tengah. Hanya saja, Rumah Joglo Jawa Timur ini lebih artistik dan minimalis.

Jika dilihat dengan teliti, tenttu terdapat perbedaan antara rumah adat Jawa Timur dan Jawa Tengah, yaitu biasanya tidak ada ukiran khusus dibagian tiang, bagian dalam bangunan ataupun di genteng. Terkadang, masyarakat Jawa Timur menyebut rumah adat ini dengan sebutan Rumah Joglo Situbondo.

Adapun fungsi dari rumah adat Joglo antara lain:

  • Pendopo. Berupa serambi yang biasanya difungsikan sebagai pendopo. Bagian serambi ini biasanya berukuran lumayan luas, bahkan luasnya hampir setengah dari rumah itu sendiri. Tujuannya karena bagiannya luas, maka bisa menampung banyak tamu sekaligus. Selain itu, bagian pendopo ini juga sering digunakan untuk mempertunjukkan kesenian.
  • Ruangan belakang. Jika bagian depan dikhususkan untuk tamu dan ruang publik, berbeda dengan ruang belakang, biasanya dipakai khusus untuk pemilik rumah. Ruangan belakang ini pun dibagi lagi menjadi beberapa bagian, diantaranya untuk dapur dan ruang tidur.

Rumah adat Bali

rumah adat Bali

Pulau Dewata Bali dikenal memiliki banyak sekali warisan budaya. Selain agama dan tradisi, Bali juga mewarisi bentuk rumah adat yang unik dan berbeda dari rumah adat dari wilayah lain. Bentuk dari rumah adat penduduk Bali ini lebih mirip seperti candi.

Dalam membangun rumah adat Bali tidak bisa sembarangan. Maka dari itu, biasanya masyarakat Bali jika hendak membangun rumah adat akan memakai jasa arsitektur khusus, yang biasa dikenal dengan sebutan Udagi. Udagi ini memang seniman yang khusus mendesain rumah adat tradisional Bali.

Berikut ini beberapa jenis bangunan dalam rumah adat Bali:

Bangunan Angkul-angkul

Bangunan Angkul Angkul

Merupakan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai pintu masuk utama untuk memasuki rumah adat Bali. Fungsinya mirip seperti Gapura Candi Bentar pada Pura. Hal yang membedakannya adalah pada Angkul-angkul terdapat atap.

Bangunan Aling-aling

Merupakan sebuah bangunan yang berada di halaman rumah adat tradisional Bali. Bentuknya mirip seperti “pos ronda mini” yang letaknya di pekarangan depan. Bangunan ini biasanya dipakai oleh pemilik rumah untuk melakukan aktivitas seperti mempersiapkan pernak pernik untuk upacara adat, mengukir patung, atau hanya untuk sekadar tempat bersantai dan menerima tamu.

Pura Keluarga atau Sanggah Pamerajan

Sanggah (Sanggar) artinya tempat suci dan Pamerajan asal katanya dari Praja yang bermakna keluarga. Jadi, Sanggah Pamerajan berarti tempat suci untuk suatu keluarga. Bangunan ini biasanya dijadikan sebagai tempat peribadatan yang bersifat pribadi, jadi hanya anggota keluarga saja yang memakainya.

Bale Daja atau Bale Meten

Bangunan ini biasanya digunakan untuk tempat istirahat anak gadis yang belum berkeluarga atau bisa juga digunakan untuk tempat israhat bagi kepala keluarga. Bangunan ini berukuran sedang. Tidak terlalu besar juga tidak terlampau sempit, jadi hanya cukup untuk ruang tidur saja.

Bale Tiang Sanga atau Bale Dauh

Bangunan ini dikenal memiliki beberapa sebutan, diantaranya biasa disebut dengan nama Bale Dauh atau Bale Tiang Sanga. Tiang berarti tiang dan Sanga berarti 9. Jadi, kurang lebih artinya bangunan yang memiliki 9 tiang. Biasanya dipakai untuk menerima dan memuliakan tamu.

Bale Sakepat

Dilihat dari luas ruangannya, Bale Sakepat termasuk bangunan yang sederhana. Berbentuk persegi empat dan memiliki 4 tiang. Bangunan ini biasanya terletak di pekarangan rumah di sebelah timur. Banguna ini biasanya digunakan oleh pemiliknya untuk tempat berkumpul keluraga atau hanya sekadar tempat santai di siang hari.

Bale Gede

Bangunan ini memiliki ukuran yang sesuai dengan namanya, Gede (besar). Bangunan ini biasanya bisa menampung banyak orang yang digunakan untuk acara penting, seperti upacara adat atau acara penting lainnya.

Paweregen

Bangunan ini biasanya berguna untuk menyimpan bahan makanan dan juga sekaligus sebagai tempat masak (dapur). Jadi, bangunan ini semacam bangunan wajib yang harus ada pada setiap rumah adat di Bali.

Jineng

Bangunan Jineng juga biasanya berada di pekarangan rumah. Jineng juga dikenal oleh masyarakat Bali dengan nama Klumpu. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan bahan pangan padi serta gabah.

Rumah adat Nusa Tenggara Barat

Provinsi NTB mempunyai rumah adat yang bernama Rumah Dalam Loka. Rumah adat ini dulunya digunakan oleh para raja/sultan Sumbawa sebagai tempat tinggal.

Nama Dalam Loka sendiri berasal dari dua kata. Dalam yang artinya istana, sedangkan Loka artinya dunia. Bangunan rumah adat ini megandung arsitektur Islam, karena ditemukan 99 Asmaul Husna pada tiang rumah tersebut. Tak heran, karena ajaran Islam sangat kental di NTB.

Di dalam rumah adat ini terdapat beberapa ruangan, diantaranya:

  • Kuntul Agung. Digunakan sebagai tempat untuk musyawarah atau juga untuk acara penting lainnya. Letaknya berada di bagian depan rumah adat.
  • Lunyuk Mas. Ruangan ini biasanya digunakan oleh istri raja/sultan, permaisuri dan staf penting kerajaan.
  • Ruang Dalam. Biasanya ruangan ini dipakai untuk tempat beribadah (Salat). Terletak di sisi barat atau timur rumah adat.
  • Ruang Sidang. Biasanya ruangan ini terletak di bagian belakang rumah adat. Sesuai dengan namanya, ruangan ini digunakan untuk keperluan sidang.
  • Kamar Mandi. Memiliki bentuk yang memanjang dan biasanya terletak di luar bangunan utama rumah adat.
  • Bala Bulo. Terletak di sebelah Lunyuk Mas, memiliki 2 lantai. Lantai pertama biasanya digunakan untuk ruang bermain bagi anak-anak, sedangkan ruangan kedua digunakan untuk melihat pertunjukan bagi istri bangsawan.

Rumah adat Nusa Tenggara Timur

Provinsi NTT terdiri dari beberapa pulau. Hal ini menjadikan NTT memiliki banyak suku. Mulai dari suku Sumba, suku Antoni, suku Lamaholot, suku Belu, dll. Dan dari masing-masing suku tersebut memiliki ciri dan bentuk rumah adat yang unik.

Dari sekian banyak macam jenis rumah adat yang ada di NTT, rumah Musalaki merupakan salah satu yang paling dikenal dan menjadi ikon. Rumah adat tersebut berasal dari suku Lio. Rumah adat ini berdesain unik dan mengandung nilai-nilai tersendiri di dalamnya.

Rumah adat Kalimantan Barat

Dari sekian banyak rumah adat yang ada di Kalimantan Barat, Rumah Panjang merupakan salah satu yang paling terkenal. Rumah ada ini merupakan cerminan dan ciri khas dari masyarakat Dayak. Bagi masyarakat di sana, Rumah Panjang merupakan simbol atau gambaran sosial kehidupan.

Bagaimana tidak, Rumah Panjang menjadi tempat utama bagi aktivitas kehidupan masyarakat Dayak. Namun sayangnya, keberadaannya sudah sangat sedikit dan jarang ditemui lagi. Rumah Panjang Kalimantan Barat mirip seperti rumah adat yang berada di Kalimantan Tengah karena lokasinya yang berdekatan.

Rumah adat Kalimantan Tengah

Rumah Betang merupakan rumah adat yang khas dari Kalimantan. Tak heran, rumah adat ini tersebar di berbagai penjuru Kalimantan yang dihuni oleh suku Dayak. Dan daerah yang paling mendominasi adalah hulu sungai yang menjadi pusat pemukiman.

Rumah adat ini memiliki ciri khas yaitu bentuknya panjang dan panggung. Panjangnya berkisar antara 30-150 meter, sedangkan lebarnya berkisar antara 10-30 meter dan tinggi tiangnya berkisar antara 3-5 meter.

Dalam pembuatan rumah adat ini, terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah hulu rumah harus satu arah dengan matahari terbit dan hilir rumahnya harus ke arah matahari terbenam. Hal tersebut merupakan sebuah gambaran atau simbol dari kerja keras untuk bertahan hidup, mulai dari matahari terbit hingga terbenam.

Rumah adat Kalimantan Selatan

Wikipedia

Rumah Ba-Bubungan Tinggi atau Rumah adat Bubungan Tinggi merupakan salah satu dari sekian banyak rumah adat yang paling terkenal dari Kalimantan Selatan. Rumah adat ini merupakan rumah tradisional Suku Banjar.

Maka dari itu, rumah adat ini sudah dianggap sebagai maskot rumah adat khas Kalimantan Selatan. Dulu, di dalam komplek keraton Banjar, Bubungan Tinggi dijadikan sebagai sentral atau pusat dari keraton yang menjadi tempat tinggal raja.

Sekilas, rumah ini mirip seperti rumah adat Betawi yang bernama Rumah Bapang. Namun, hal yang menjadi pembeda adalah pada rumah Bubungan dibangun dengan menggunakan konstruksi panggung serta terdapat anjung pada kanan dan kiri bangunannya.

Rumah adat Kalimantan Timur

Kalimantan Timur memiliki rumah adat yang bernama Rumah Lamin. Rumah adat ini merupakan simbol atau identitas dari masyarakat Dayak Kalimantan Timur. Rumah ini memiliki panjang membentang sekitar 300 meter, lebar 15 meter serta tinggi kurang lebih 3 meter.

Rumah Lamin dikenal sebagai rumah panggung yang panjang karena sambung menyambung. Saking panjang dan besarnya, rumah ini bisa dihuni oleh beberapa keluarga sekaligus. Bahkan, ada salah satu Rumah Lamin bisa dihuni oleh 12-30 keluarga dan dapat menampung kurang lebih 100 orang. Luar biasa!

Rumah adat Kalimantan Utara

Kalimantan Utara memiliki rumah adat yang bernama Rumah Baloy. Arsitektur yang bernilai seni tinggi ini merupakan mahakarya dari masyarakat Suku Tidung. Walaupun rumah adat ini masih menggunakan tiang di bagian bawahnya, namun rumah adat ini terlihat lebih modis dan modern.

Ada yang menduga bahwa rumah Baloy ini merupakan hasil pengembangan dari Rumah Lamin (Rumah Panjang) yang berasal dari Kalimantan Timur. Rumah Baloy pintu utamanya menghadap ke sebelah selatan sedangkan bangunannya menghadap ke utara.

Rumah adat ini dibagi menjadi beberapa ruangan utama yang dikenal dengan nama Ambir, yaitu:

  1. Ambir Kiri (Alad Kait) merupakan tempat yang digunakan untuk menerima aduan perkara dari masyarakat atau juga digunakan untuk hal yang berkaitan dengan adat.
  2. Ambir Tengah (Lamin Bantong) merupakan tempat ‘sakral’ yang digunakan oleh pemuka adat untuk memutuskan perkara adat.
  3. Ambir Kanan (Ulad Kemagot) merupakan tempat istirahat setelah selesainya perkara adat.
  4. Lamin Dalom merupakan singgasana Kepala Adat Besar Dayak Tidung.

Rumah adat Sulawesi Barat

Sulawesi Barat memiliki rumah adat yang bernama Rumah Boyang. Rumah ada ini juga tergolong ke dalam rumah panggung, karena ditopang oleh tiang dari kayu balok besar dengan tinggi sekitar 2 meter. Tiang rumah ini tidak langsung di tanam ke tanah, melaikan diletakkan di atas batu datar, tujuannya agar bisa lebih tahan lama dan tidak lapuk.

Rumah adat yang merupakan hasil karya dari Suku Mandar ini memiliki 2 buah tangga, 1 tangga berada di depan sedangkan 1 tangga lagi di belakang. Biasanya, anak tangganya akan berjumlah ganjil, seperti berjumlah 7 hingga 13. Terdapat pula pegangan pada sisi kanan dan kirinya.

Rumah adat Sulawesi Tengah

Wacana.co

Sulawesi Tengah dihuni oleh berbagai suku, diantaranya suku Bugis, suku Gorontalo, suku Kaili, dan yang lainnya. Dari suku-suku tersebut, budaya dan adat di Sulawesi Tengah menjadi semakin kaya dan beragam.

Dan salah satu dari sekian banyak budaya yang ada, rumah adat biasanya menjadi ikon atau simbol. Begitu pula dengan Sulawesi Tengah, karena memiliki rumah adat yang bernama Rumah Tambi.

Karena keunikan bentuk dan desainnya, rumah ini seringkali dijadikan sebagai ikon rumah adat Sulawesi Tengah. Rumah Tambi ini biasanya digunakan oleh masyarakat biasa untuk digunakan sebagai tempat tinggal.

Sedangkan bagi bangsawan dan keluarga kerajaan, biasanya tinggal di rumah khusus yang biasa dikenal dengan nama rumah Souraja.

Rumah adat Sulawesi Utara

Di Sulawesi Utara terdapat berbagai macam suku, mulai dari suku Gorontalo, Bolaang Mongondow, Sangir Talaud, dll. Namun biasanya yang menjadi ikon adalah suku Minahasa.

Rumah Walewangko merupakan nama rumah adat yang menjadi simbol kebudayaan Sulawesi Utara. Rumah Walewangko merupakan rumah adat dari suku Minahasa. Seperti kebanyakan rumah adat, rumah ini juga tergolong ke dalam rumah panggung.

Dulunya, rumah ini dijadikan sebagai tempat tinggal untuk para tokoh masyarakat dan pemuka adat. Maka dari itu, rumah adat ini terbagai menjadi beberapa ruangan, diantaranya ruang Lesar, Sekey (serambi depan) dan Pores.

Rumah adat Sulawesi Tenggara

Masyarakat di Sulawesi Tenggara merupakan terdiri dari berbagai suku, diantaranya suku Muna, suku Tolaki, suku Buton (Wolio), suku Morenene, dan suku Wawonii. Dari akulturasi tersebut menghasilkan keunikan dan ragam budaya tersendiri.

Diantara sekian banyak rumah adat dari berbagai suku yang ada di Sulawesi Tenggara, rumah Banua Tada biasanya sering dijadikan sebagai ikon. Rumah adat tersebut berasal dari suku Buton. Terdapat beberap keunikan dan ciri khasnya, seperti dari segi fungsi, arsitektur serta nilai filosofis yang dimilikinya.

Rumah Banua Tada jika ditelisik dari namanya berasal dari dua kata, yaitu Banua yang artinya rumah sedangkan Tada yang artinya siku. Nama tersebut disematkan karena memang rumah adat ini memiliki banyak siku-siku dalam struktur bangunannya.

Rumah adat Sulawesi Selatan

Wikipedia

Sulawesi Selatan terdiri dari berbagai suku, diantaranya ialah suku Toraja, suku Mandar, suku Bugis, suku Makassar, dll. Walaupun terdiri dari berbagai macam suku, namun masyarakat Sulawesi Selatan selalu menjunjung tinggi nilai damai serta kerukunan. Hal tersebut wajib kita teladani.

Nampaknya sudah banyak yang sering mendengar tentang suku Toraja. Tak heran, karena suku yang satu ini kerapkali dijadikan sebagai ikon dari Sulawesi Selatan. Begitu juga dengan rumah adatnya. Suku Toraja memiliki rumah adat yang bernama Rumah Tongkonan.

Tidak hanya di Indonesia saja, ternyata rumah adat ini sudah dikenal luas di seluruh penjuru dunia. Hal yang menjadikan rumah adat ini begitu terkenal dan populer adalah karena nilai filosofis serta keunikan arsitektur yang dimilikinya.

Rumah adat Gorontalo

Walaupun Gorontalo merupakan provinsi yang tergolong muda, namun bukan berarti Gorontalo tidak memiliki budaya sama sekali. Bahkan, budaya dari suku Gorontalo sudah ada dan berkembang jauh sebelum Gorontalo berubah menjadi provinsi.

Untuk hal budaya, Gorontalo memiliki rumah adat yang dikenal dengan nama rumah adat Bandayo Pomboide dan rumah Doluhapa. Rumah Bandayo Pamboide kerapkali digunakan untuk pengadilan, tempat musyawarah dan juga tempat pertunjukan adat.

Rumah Dolohupa juga memiliki fungsi yang hampir mirip dengan rumah Bandayo Pamboide, yaitu sering digunakan untuk tempat musyawarah demi mencapai kesepakatan dalam masalah adat. Karena Dolohupa sendiri dalam bahasa Gorontalo memiliki makna “Mufakat”.

Rumah adat Maluku

Wacana.co

Selain dikenal sebagai salah satu penghasil lada terbesar, Maluku juga memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Salah satunya adalah rumah adat. Maluku memiliki rumah adat yang bernama Rumah Baileo.

Rumah adat ini dijadikan sebagai ikon sekaligus juga gambaran jati diri serta sikap masyarakat Maluku secara umum. Nilai filosofis serta arsitektur cukup menjadikan rumah adat ini menjadi populer di kalangan wisatawan.

Nama “Baileo” diambil dari bahasa Maluku yang memiliki makna “Balai”. Maka dari itu, fungsi utama dari rumah adat ini adalah sesuai dengan namanya yaitu sebagai balai adat, tempat berlangsungnya acara adat.

Rumah adat Maluku Utara

Walaupun Maluku Utara tergolong provinsi yang baru, namun hal tersebut bukan berarti Maluku Utara minim akan warisan budaya. Karena budaya Maluku Utara sudah lama terbentuk, jauh sebelum memisahkan diri dari Maluku.

Hal tersebut karena adanya berbagai macam suku yang tinggi di sana menjadikan Maluku Utara sarat akan warisan budaya. Salah satunya adalah rumah ada yang bernama Rumah Sasadu yang berasal dari suku Sahu telah ada sejak dulu di Halmahera.

Rumah adat Papua

Wikipedia

Papua merupakan salah satu provinsi yang paling luas dan terletak di wilayah timur Indonesia. Saking luasnya Papua, masyarakat yang hidup di dalamnya terdiri dari berbagai suku dan bahasa yang berbeda serta hidup terpencar-pencar.

Untuk perihal rumah adat, Papua memiliki rumah yang bernama Rumah Honai. Rumah ini memiliki desain yang unik berbentuk kerucut dan dibangun dari material yang berasal dari alam. Secara fungsi, rumah Honai ini hanya digunakan oleh pria dewasa, sedangkan bagi wanita tinggal di Rumah Ebei. Dan rumah Wamai digunakan sebagai kandang hewan ternak dan peliharaan.

Bagi masyarakat adat Papua, rumah Honai ini bukan hanya sekadar bangunan rumah saja, akan tetapi bagi mereka rumah ini dianggap sebagai tempat untuk memberikan pelajaran kehidupan. Rumah Honai digunakan oleh para pria untuk mendidik para pemuda tentang bagaimana cara untuk dapat bertahan hidup serta menjadi pria sejati yang bertanggung jawab.

Sedangkan rumah Ebei digunakan para ibu-ibu untuk mengajarkan kepada anak-anak perempuan mereka tentang cara mengurus rumah tangga serta bagaimana cara untuk menjadi wanita seutuhnya untuk bekal mereka pada kehidupan di masa depan.