Gak nyangka! Inilah sejarah singkat kerajaan Sriwijaya

KERAJAAN SRIWIJAYA – Pada zaman dahulu, jauh sebelum negara Indonesia terbentuk, wilayah Nusantara terdiri dari kerajaan-kerajaan besar, salah satunya adalah kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan terkuat di pulau Sumatera ini mampu memberikan pengaruh yang cukup besar pada Nusantara dengan daerah kekuasaan yang cukup luas, yaitu mulai dari Thailand, Kamboja, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Semenanjung Malaya.

Nama Sriwijaya sendiri diambil dari bahasa Sanskerta, yaitu Sri artinya “bercahaya” dan Wijaya yang artinya “kemenangan”.

Sebagai bukti awal keberadaan kerajaan Sriwijaya, yaitu pada awal abad ke-7, Tsing yang merupakan seorang pendeta Tiongkok menuliskan bahwa dirinya tinggal selama 6 bulan ketika mengunjungi Sriwijaya di tahun 671.

Prasasti bersejarah yang merupakan prasasti paling tua kerajaan Sriwijaya yaitu prasasti Kedukan Buki juga merupakan prasasti pada abad ke-7 yang ditemukan di Palembang.

Namun disebabkan karena terjadi beberapa perang besar yang diantaranya adalah karena serangan raja Dharmawangsa Teguh dari Jawa pada tahun 990, pengaruh Sriwijaya pada daerah bawahannya menjadi berkurang.

Hingga akhirnya pada tahun 1183 Sriwijaya berada di bawah kendali Kerajaan Dharmasraya.

Setelah runtuhnya kerajaan besar ini, kerajaan Sriwijaya baru memulai eksistensinya setelah secara resmi pada tahun 1928 dikemukan oleh sejarawan George Coedes dari Prancis.

Di mana sejarawan ini menyebarkan penemuannya terkait kerajaan Sriwijaya di surat kabar yang dimuat dalam bahasa Indonesia dan Belanda.

Pembentukan dan Pertumbuhan Kerajaan Sriwijaya

Pembentukan dan Pertumbuhan Kerajaan Sriwijaya

Meskipun Sriwijaya merupakan kerajaan terbesar di Indonesia selain Majapahit, namun tak banyak bukti fisik yang ditemukan mengenai kerajaan ini.

Ya, kerajaan yang merupakan negara maritim serta menjadi pusat perdagangan ini tidak memperluas kekuasaanya di luar wilayah Asia Tenggara.

Namun tetap dengan pengecualian, yaitu tetap berkontribusi pada sebuah populasi Madagaskar sejauh 3.30 mil pada wilayah barat.

Sesuai yang tertera dalam catatan I Tsing, Kekaisaran Sriwijaya sudah ada sejak 671 Masehi. Kemudian pada tahun 682 prasasti Kedukan Buki menunjukkan kerajaan Sriwijaya di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang.

Dan pada abad ke-7, orang Tionghoa menemukan bahwa ada dua kerajaan yang menjadi bagian kekuasaan Sriwijaya yaitu Kedah dan Melayu.

Berdasarkan prasasti Kota Kapur tahun 686 ditemukan pulau Bangka yang dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, prasasti ini juga menyangka jika Sri Jayanasa telah meluncurkan petualangan milir untuk bisa menghukum Bumi Jawa yang enggan berbakti pada Sriwijaya.

Di mana peristiwa ini bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah dan Tarumanagara di Jawa Barat.

Sejak kejadian ini pula kerajaan Sriwijaya tumbuh sukses dalam pengendalian jalur perdagangan maritim wilayah Selat Sunda, Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, serta Selat Karimata.

Berdasarkan sebuah penelitian, juga ditemukan bahwa kerajaan Sriwijaya telah berhasil menguasai Kamboja dan Thailand yang dibuktikan dengan adanya reruntuhan candi-candi Sriwijaya.

Kemudian pada abad ke-8, ditunjukkan bahwa penguasan Sriwijaya Wangsa Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa di sini.

Dan pada saat bersamaan Semenanjung Melayu Langkasuka menjadi bagian kerajaan Sriwijaya hingga berangsur Trambralinga dan Pan Pan juga masuk dalam pengaruh Sriwijaya.

Setelah Darmasatu lengser dari kedudukannya, yang menjadi penerus dan memimpin kerajaan Sriwijaya sejak tahun 792 sampai 835 adalah Samaratungga. Dan pada masa kepemimpinannya ini lah salah satu candi terbesar di Indonesia, Candi Borobudhur dibangun.

Agama dan budaya

Agama dan budaya kerajaan Sriwijaya awalnya adalah Budha

Pixabay.com @ sasint

Sriwijaya merupakan kerajaan yang mayoritas penduduknya beragama Budha.

Sebagai pusat agama Budha, tak heran jika kerajaan Sriwijaya banyak dikunjungi oleh budayawan dan agamawan untuk meneliti lebih dalam terkait agama dan budaya Budha.

Setelah sukses berkembang pada pusat kerajaan, kemudian agama Budha masuk dan mempengaruhi wilayah lain yang termasuk dalam naungan Sriwijaya. Di mana pengaruh agama dan budaya Budha ini disebarkan melalui perdagangan dan penaklukan.

Akan tetapi, setelah berkembang dan maju pesat dalam jangka waktu yang cukup panjang kemudian kerajaan Sriwijaya mulai melemah dan memicu munculnya kerajaan Islam pertama di Sumatera.

Hal ini dikarenakan oleh banyaknya pedagang dan ulama muslim dari Timur Tengah yang masuk dan ikut serta dalam rotasi perdanganan Sriwijaya.

Pengaruh budaya dan agama Islam ini diketahui masuk pada tahun 718 yang dibuktikan dengan perpindahan raja Sriwijaya Sri Indrawarman yang menjadi pemeluk agama Islam.

Selain itu, beberapa kali raja Sriwijaya juga terbukti mengirimkan surat pada khalifah Islam di Suriah.

Perdagangan

Kerajaan Sriwijaya dan perdagangan

mendoldilangit.blogspot.co.id

Tidak ada yang bisa meragukan nama kerajaan Sriwijaya rasanya jika membahas mengenai perdagangan, di mana kerajaan ini memang menjadi penguasa yang bisa mengendalikan jalur perdagangan diantara India dan Tiongkok.

Penguasaan ini dilakukan oleh kerajaan Sriwijaya lewat Selat Malaka dan Selat Sunda.

Beberapa komoditi yang dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya diantaranya ialah kapur barus, kayu gaharu, pala, cengkeh, timah, gading, kapulaga bahkan hingga emas sekalipun.

Karena komoditinya yang seperti tidak terbatas ini, nama dan kekayaan Raja Sriwijaya cukup terkenal sebagai raja yang kaya, sama seperti raja-raja yang berasal dari India.

Kekayaan ini jugalah yang membuat Raja Sriwijaya seperti bisa membeli kekayaan dari para vassal-vassalnya, bukan hanya untuk daerah-daerah yang ada di sekitar kerajaan Sriwijaya saja, namun juga untuk seluruh kawasan Asia Tenggara.

Kekayaan yang dimiliki oleh kerajaan Sriwijaya semakin bertambah karena mereka bisa mengambil keuntungan yang cukup besar dari terjadinya runtuhan Dinasti Tang dan naiknya Dinasti Song di paruh pertama abad 10.

Politik di kerajaan Sriwijaya

Sejarah kerajaan sriwijaya dan keadaan politiknya

Foto kisahasalusul.blogspot.com

Dalam sebuah kerajaan besar seperti kerajaan Sriwijaya ini, tidak lengkap rasanya jika tidak membahas mengenai kehidupan politiknya.

Untuk bisa memperkuat posisi dan kekuasaannya di wilayah Asia Tenggara, Sriwijaya membangun hubungan diplomasi yang cukup kuat dengan Kekaisaran Cina, ia sering kali mengantarkan utusan juga upeti.

Tidak hanya pada kekaisaran Cina, Raja Sriwijaya juga memiliki hubungan yang cukup akrab dengan Kerajaan Pala yang berasal dari Benggala.

Hal ini dibuktikan dengan adanya prasasti Nalanda, di mana di dalamnya tercatat bahwa Raja Balaputradewa memberikan biara pada Universitas Nalanda.

Tak hanya itu saja, Raja Sriwijaya juga memiliki hubungan yang tak kalah dekatnya dengan Dinasti Chola di Selat India. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya Vihara yang hingga kini dikenal dengan nama Vihara Culamanivarmma.

Namun sayangnya hubungan baik antara kerajaan Sriwijaya dan Selat India ini tak bertahan lama, ketika Rajendra Chola I naik tahta, Ia menyerang kerajaan Sriwijaya di abad ke 11.

Lalu, ketika Kulothunga Chola I naik tahta, hubungan diplomasi ini bisa menjadi baik kembali.

Hal ini ditandai dengan dikirimnya utusan dari Raja Sriwijaya untuk diminta diikrarkannya pengumuman untuk pembebasan bea cukai di wilayah Vihara Culamanivarmma yang sudah disebutkan tadi.

Namun, pada masa ini kerajaan Sriwijaya juga dicap menjadi salah satu bagian dari Dinasti Chola.

Daftar raja yang memimpin kerajaan Sriwijaya

Daftar raja-raja kerajaan Sriwijaya

wacana.co

Sebagai penutup, ada baiknya  jika kamu juga mengetahui Raja-raja yang memang diketahui pernah menjadi raja di kerajaan Sriwijaya, yakni sebagai berikut:

  1. Raja Daputra Hyang, ia dipercaya pernah menjadi putra karena namanya ada pada Prasasti Kedukan Bukti di tahun 683 M. Ia merupakan raja yang sukses memperluas daerah kekuasaannya.
  2. Raja Dharmasetu, ia juga seorang Raja yang cukup berhasil meluaskan daerah kekuasaannya. Bahkan ia juga bisa membangun pangkalan di sekitar Ligor.
  3. Raja Balaputradewa, Ia juga seorang Raja yang bisa membuat perkembangan besar bagi kerajaan Sriwijaya.
  4. Raja Sri Sudamaniwarmadewa, di masa ini Sriwijaya pernah menerima serangan dari Raja Darmawangsa namun berhasil menggagalkannya.
  5. Raja Sanggrama Wijayattunggawarman, ia juga merupakan seorang Raja yang pernah mengalami serangan, namun kali ini dari Kerajaan Chola.